C. Suryo Laksono
Posted on 02 Feb 2017

share

Fb

tw

g+

Hai, Reonites! Kali ini redaksi ingin memperkenalkan sosok di balik komik yang super absurd di re:ON Comics, TAWUR. Seperti apa sih, sosok komikus yang menciptakan komik TAWUR ini? Yuk, kita ikuti liputannya berikut ini. 

Halo Kak Suryo, apa kabar? Sekarang lagi sibuk apa saja?

Halo! Puji Tuhan, kabarnya baik. Sekarang lagi sibuk mengais rezeki, nih. Haha, bercanda. Saat ini saya lagi sibuk ngomik dan mengerjakan beberapa ilustrasi.

Mulai ngomik dari sejak kapan, sih, Kak?

Kalau ngomik sebenarnya sudah sejak SMP, tapi mulai memberanikan diri terjun ke industri sekitar tahun 2010.

Bisa diceritain, nggak, awalnya bergabung dengan re:ON Comics?

Dulu, ketika re:ON Comics baru mau terbit, mas Andik Prayogo menawarkan pada saya posisi ilustrator untuk artikel 10 tips. Sejak itu, kami bekerja sama hingga akhirnya saya mengeluarkan karya sendiri di re:ON Comics.

Cuplikan 10 Tips episode pertama

Cuplikan 10 Tips episode pertama

 

Apa saja, hal yang paling berkesan bagi Kakak semenjak bergabung dengan re:ON Comics?

Banyak sekali. Hal pertama yang paling dirasakan adalah melihat profesionalitas dan kekompakan tim re:ON dalam mengembangkan perusahaan. Saya juga kagum dengan salah satu visi re:ON Comics dalam mengayomi para komikus kontributor.

Bisa diceritakan awal pengajuan komik Tawur, sehingga akhirnya bisa tayang di re:ON?

Setelah mendapat pencerahan dari meditasi yang khusyuk (etjiee~), sebuah ide cerita muncul dan segera didiskusikan dengan mbak Gita selaku editor. Karena ceritanya dianggap unik, akhirnya lolos dan tayang perdana di re:ON vol. 7

Sekarang Tawur, kan, sudah memasuki sesi keduanya, nih, nah, bagaimana tanggapan Kakak tentang hal ini?

Tentunya senang, karena banyak pembaca yang suka dan menunggu aksi Budi dan kawan-kawan. Tapi juga bakal menjadi tantangan tersendiri bagi saya, karena sekarang dituntut untuk menyajikan cerita baru yang fresh pada pembaca.

Kalau ide komiknya, datangnya dari mana, sih?

Ide dasar TAWUR sebenarnya sudah ada sejak tahun 2011/2012. Berawal dari keprihatinan saya pada maraknya berita tawuran pada waktu itu serta berita dagelan pemerintah yang terus-menerus muncul. Akhirnya saya coba gabungkan kedua ide itu menjadi satu cerita. Jadi sebenarnya TAWUR itu lebih berupa komik kritik sosial.

Kalau nama karakter-karakternya ?

Karakter Budi idenya dari nama ikonik yang muncul di buku belajar membaca. Wiji Lantang dari sosok aktivis Widji Thukul. Kata Lantang-nya sendiri terinspirasi dari nama panggung para penyanyi Iwan Fals dan Doel Sumbang. Teguh Margono terinspirasi dari sosok Mario Teguh, sang motivator. Kalau Starki Karinda itu nama gadis SMA dari cerpen di majalah Keris PL warisan alm. abang saya.

Sebenarnya Tawur itu, kan, komik aksi, tapi, ternyata banyak para Reonita yang suka komik Tawur , trus karakter Budi dan Wiji juga sering mereka pasangkan. Tanggapan Kak Suryo mengenai hal ini bagaimana?

Hahaha, jujur, saya merasa tersanjung karena karya saya bisa menciptakan fandom tersendiri di dunia komik lokal. Walaupun hal tersebut muncul secara tidak sengaja, tapi saya bisa menganggap itu sebagai pencapaian tersendiri. Hehehe.

Tawur Volume 1

Cover Tawur Volume 1 versi edisi reguler (ilustrasi oleh C. Suryo Laksono) dan edisi terbatas (ilustrasi oleh Ino Septian)

 

Dulu awal mula belajar bikin komik itu, bagaimana, sih?

Saya belajar otodidak. Awalnya dari meniru dari komik-komik yang sering saya baca terlebih dahulu. Kemudian setelah mulai mengerti esensi dalam membuat komik, barulah saya mulai membuat karya orisinil sendiri sambil terus menimba ilmu.

Proses ngomik ala Kak Suryo itu, bagaimana?

Diawali dari storyboard (dalam bentuk booklet sederhana supaya lebih mudah membayangkan hasil cetaknya), kemudian masuk tahap sketsa dan inking apabila storyboardnya disetujui. Lalu dilanjutkan proses toning, texting, dan layouting di komputer.

Apa pengalaman yang paling berkesan saat menghadapi Reonites?

Pengalaman paling berkesan itu ketika ada yang bertanya tentang desain karakter-karakter di TAWUR karena mereka mau meng-cosplay-kan karakter tersebut. Itu bisa dibilang salah satu pujian dan pencapaian paling membanggakan yang bisa didapat bagi seorang komikus.

Bagaimana cara memenuhi deadline dari editor?

Makan makanan bermutu dan berlatih keras—bercanda XD. Saya biasanya akan membuat ‘deadline-deadline’ sendiri. Target-target harian kecil yang harus diselesaikan hingga menjelang deadline editor.

Apa ada hambatan yang pernah dialami selama ngomik?

Tentu ada. Walaupun mungkin bukan hambatan yang sifatnya besar. Yang paling sering biasanya ketika merencanakan storyboard. Kadang bisa sampai pusing tujuh keliling saat memikirkan ide cerita yang fresh. Haha.

Bagaimana dengan pihak keluarga? Apakah ada dorongan atau malah sempat diragukan profesi ini?

Awalnya ya, sempat diragukan. Untungnya karena sekarang bisa bikin dapur ngebul sendiri, jadinya sekarang cukup didukung.

Apa yang mendorong Kakak ingin menjadi komikus?

Alasannya sederhana. Saya senang ketika ide dan pemikiran saya bisa dibaca/dilihat banyak orang. Apalagi jika ada kemungkinan hal tersebut bisa dianggap bermanfaat bagi pembaca.

Adakah komikus idola yang menginspirasi Kakak?

Naoki Urasawa, Katsuhiro Otomo, dan Satoshi Kon adalah salah satu sumber inspirasi terbesar saya dalam berkarya. Kalau dari Indonesia, Mas Is Yuniarto adalah komikus yang men-trigger saya untuk terjun ke industri komik.

Bisa diceritakan prosesnya, hingga Tawur ada game-nya?

Sejak membuat cerita TAWUR, sebenarnya sudah terbayang kalau ide ini bisa diadaptasi jadi game. Seiring waktu, saya ngobrol dengan salah satu founder, Mas Yudhanegara Njoman. Dan ternyata beliau kepikiran hal yang sama. Akhirnya kami bekerja sama dengan Tinker Games, sebagai game developernya.

Game Tawur

Menu mobile game Tawur

 

Siapa yang paling berpengaruh, sehingga Kak Suryo bisa menjadi komikus profesional seperti sekarang ini?

Yang pertama tentu saja orang tua, karena mereka mempercayai saya untuk menekuni pekerjaan yang ‘menantang’ ini. Yang lainnya adalah teman-teman yang mau menyediakan waktunya untuk memberi kritik saran pada karya saya. Tentunya juga rekan-rekan komikus lain, yang selalu membuat saya iri dan ingin mengejar pencapaian mereka.

Pernah nggak, karya Kakak ditolak penerbit?

Tentu pernah. Kalau dalam situasi seperti itu biasanya saya tidak akan baper (bawa perasaan). Saya akan coba berpikir sederhana. Kalau memang ada kekurangan, tinggal diperbaiki. Kalau karya saya genre-nya tidak sesuai, tinggal buat saja cerita baru.

Menurut Kakak, apa syarat wajib menjadi komikus?

Sikap rendah hati dan terus mau belajar, karena di industri ini, kita sebagai komikus, akan selalu berhadapan dengan editor dan pembaca secara konstan. Bersyukurlah saat menerima kritik saran dan jangan pernah puas atau takabur saat menerima pujian. Dan terakhir tentu saja sikap ngotot untuk terus berkarya.

Pesan untuk para Reonites yang ingin menjadi komikus?

Siapkan ide cerita terbaik kamu! Selalu rendah hati dan terbuka untuk semua masukan, karena sering kali kita tidak bisa melihat kekurangan kita. Teruslah merasa bodoh supaya selalu belajar dan tidak menjadi sombong. Terakhir, ditujukan terutama untuk teman-teman yang ingin masuk ke industri ini, jangan pernah ngomik dengan tujuan mencari uang. Buatlah komik karena kamu ingin pemikiran kamu tersampaikan ke pembaca. Kalau karya kamu keren, sukses akan datang dengan sendirinya. [AP] [Photo: Andick Hart]


Tawur Preview Chapter 1 

Baca artikel selengkapnya di re:ON Comics Volume 19!

TAWUR 

 

Back to Top