Gaku Miyao
Posted on 31 Jan 2019

share

Fb

tw

g+

Hai, Reonites, siapa saja yang masih ingat dengan mangaka asal Jepang, Gaku Miyao, yang pernah hadir dalam acara ComicFest ID 2016, lalu? Nah, pada kesempatan ini, re:ON hadirkan hasil wawancara eksklusif dengan sang mangaka pengarang komik Aoba Bicycle Shop ini. Semoga dapat menginspirasi kalian yang bercita-cita ingin menjadi komikus, ya.

 

Halo Miyao-sensei, terima kasih sudah berkenan hadir di acara Comic Fest ID, apakah ini kunjungan pertama anda ke Indonesia? Bagaimana kesan-kesannya?

Terima kasih kembali. Betul, ini pertama kalinya saya berkunjung ke Indonesia. Kesan-kesan saya, dari semua yang saya lihat, saya dengar dan saya cicipi, semuanya sangat menyenangkan.

 

Apa ada pengalaman unik, selama anda berada di Indonesia?

Ya, saya sempat mencoba mengendarai sepeda penjual nasi goreng, yang sedang berkeliling menawarkan dagangannya! Sepedanya dimodifikasi, jadi memiliki setir seperti mobil. Saat saya mengendarainya, saya merasa sulit sekali mengendalikannya, namun sang pemilik bisa dengan mudah melakukannya.

 

Anda juga sempat menjadi salah satu pembicara dalam workshop Comic Caravan 101. Bagaimana menurut anda para pesertanya?

Sebenarnya, saya belum pernah mengajar komik dalam sebuah ruang kelas. Jadi, saya sangat takjub dengan antusias para peserta workshop. Rasanya sungguh menyenangkan ketika melihat antusiasme di wajah para pesertanya, yang memperhatikan semua yang saya ajarkan dengan sungguh-sungguh. Kalau diberi kesempatan lagi, mungkin saya akan membuat materi pelajaran yang lebih mudah dipahami, dan lebih banyak detail teknis menggambar.

Aoba Bicycle Shop volume 1

Komik Aoba Bicycle Shop volume 1

 

Apakah anda sempat melihat-lihat komik Indonesia? Bagaimana tanggapan anda mengenai komik Indonesia?

Ya. Awalnya saya sempat kaget melihat antusiasme penggemar manga dan anime Jepang di Indonesia, banyak sekali komik Jepang berjajar di rak toko buku di Indonesia. Padahal Jepang kan jaraknya jauh dari Indonesia. Lalu saya lihat lagi komik-komik Indonesia memang banyak yang terpengaruh oleh gaya manga Jepang, tapi uniknya, komikus muda Indonesia ini, sudah mulai banyak yang menciptakan gaya gambarnya sendiri dalam menggambar komik. Ini mengagumkan sekaligus bikin saya merasa terancam akan eksistensi mereka, jadi saya harus memacu diri untuk terus lebih baik, Hehehe.

Talkshow Gaku Miyao

Talkshow Gaku Miyao di ComicFest ID 2016

 

Dengar-dengar, dulu anda pernah menjadi animator, lalu apa yang membuat anda memutar haluan dan menjadi seorang komikus?

Saya memang menyukai film animasi, namun saya juga ingin menjadi sutradara yang bisa mengatur dan menentukan segalanya seorang diri. Namun secara teknis, hal itu sangat mustahil dilakukan sendirian dalam film animasi. Lalu, bagaimana caranya agar saya bisa menjadi sutradara yang menentukan segalanya? Jawabannya adalah melalui komik. Dengan membuat komik, saya bisa menjadi sutradara yang menentukan semuanya seorang diri.

 

Apa sih yang paling menyenangkan saat menjadi seorang komikus?

Saya pernah membuat komik pendek dengan style yang berbeda dari serial komik yang sedang saya kerjakan. Di dalamnya, saya bisa memasukkan semua ide saya dalam 30 halaman, jadi saya bisa mencoba berbagai ide cerita dan tantangan baru. Sangat menyenangkan loh, bisa membuat cerita yang berbeda-beda, seakan saya sedang berperan menjadi orang lain.

 

Menurut Miyao-sensei, pengalaman apa yang paling berkesan selama menjadi komikus?

Ah, saat komik satuan (tankobon) saya dipajang di rak toko buku, untuk pertama kalinya. Sungguh perasaan yang membanggakan, namun di saat yang bersamaan, saya merasa bahwa genderang telah ditabuh, saya harus terus berkarya dan tidak bisa mundur lagi.

 

Apa pernah ada hambatan dalam berkarya? Lalu bagaimana cara anda mengatasinya?

Ya, saya bisa menyelesaikan semua tantangan fisik menjelang deadline, mengenai alur kerja yang sudah saya tentukan, namun hambatan terbesar, biasanya saat saya kehabisan ide cerita. Tentu saya tidak bisa membuat alasan seperti, “maaf, ternyata bikin komik itu susah”, atau, “maaf, saya nggak punya cukup waktu”. Saat saya kehabisan ide, biasanya saya ngobrol dengan teman. Anehnya, saya seringkali menemukan ide cerita, saat sedang ngobrol nggak jelas dengan seseorang.

 

Apakah pernah berdebat dengan editor saat menyelesaikan komik?

Tentu saja! Sebenarnya, editor saya selalu membiarkan saya mau menggambar apa saja, namun jika dia memiliki pandangan yang berbeda, dia tidak akan ragu untuk mengatakan pada saya, apa saja yang kurang pas dan perlu direvisi. Kalau semuanya tergantung pada keinginan saya sendiri, ceritanya bisa jadi bakal berulang-ulang dan membosankan. Jadi saya sungguh menghargai saat editor saya memberi masukan tentang pendapatnya.

 

Apa yang membuat anda untuk senantiasa termotivasi dalam berkarya?

Adanya para pembaca setia yang selalu menunggu naskah yang ada di hadapan saya. Saya bisa duduk menggambar seharian setiap hari, karena adanya para pembaca yang ingin membaca komik saya.

 

Gaku Miyao di Ayodya Maid Cafe

Gaku Miyao (tengah) berfoto bersama para maid Ayodya Cafe

 

Salah satu komik serial terpanjang anda berjudul Aoba Bicycle Shop. Bisa diceritakan tentang komik tersebut?

Aoba Bicycle Shop, berkisah mengenai para pelanggan toko sepeda Aoba. Seluruh pelanggan yang mengunjungi toko ini, adalah karakter utamanya. Ada lebih dari 100 kisah hidup dari 100 pelanggan yang berbeda. Tema utamanya bukan soal sepedanya, sepeda ini menjadi cara untuk membawa kisah kehidupan dari para pelanggan tersebut.

 

Dari mana sih asal ide komik Aoba Bicycle Shop ini?

Awalnya, idenya butuh waktu dua tahun. Saya sedang memperbaiki sepeda mini tua merk Peugeot, untuk putriku yang saat itu masih duduk di bangku SD. Lalu ide ini saya sampaikan pada editor saya, lalu dia bilang, “ya, sudah kita bikin komiknya saja”. Lalu saya buat komik pendeknya, dan ternyata banyak yang suka. Dari sinilah saya mulai memikirkan cerita untuk komik sepeda ini agar bisa menjadi serial.

 Aoba dari Aoba Bicycle Shop

Karakter Aoba Bicycle Shop

 

Kenapa anda sangat senang menggambar sepeda?

Saya dulu dibesarkan di pedesaan. Bagi saya, sepeda merupakan alat transportasi paling penting, juga sahabat yang bisa membawa saya ke mana saja. Saat saya duduk di bangku SMA, saya mengadakan acara perkemahan sambil bersepeda selama 8 hari. Saya menyadari betapa indahnya untuk bertemu dengan orang-orang baru di tempat yang baru pertama kali saya kunjungi. Sampai sekarang, aku masih belum bisa melupakan betapa mengesankan pengalaman tersebut. Jadi saya ingin membalas pengalaman indah bersepeda tersebut, dengan cara menggambar sepeda dalam komik, agar pembaca lebih menghargai sepeda.

 

Anda kan sekarang sudah memasuki seri ketiga dari  Aoba Bicycle Shop, di dalam majalah komik bulanan. Bisa diceritakan mengenai jadwal kerja harian dan cara kerja untuk menyelesaikan satu chapter tiap bulannya?

Dalam waktu 2 minggu saya bisa menggambar 30 halaman, jadi saya bisa menggunakan sisa waktu 2 minggu untuk menulis ceritanya. Kecuali kalau sedang melakukan wawancara riset, sisa waktu untuk menggambar hanya tinggal 8 hingga 10 hari. Jadi kalau sudah kepepet, dalam sehari saya bisa menggambar selama 16 jam nonstop!

 

Jadi, berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan satu chapter?

Tergantung juga, berapa panjang halamannya? Tapi rata-rata untuk komik 30 halaman saya butuh waktu menggambar 10 hari saja.

 

Di Indonesia, banyak orang tua yang tidak setuju saat anaknya ingin menjadi komikus. Kalau anda bagaimana?

Untungnya, orang tua saya punya pandangan untuk mengizinkan anak-anaknya menjalani apapun karier yang mereka pilih, jadi kedua orang tua saya tidak pernah melarang jalan karier yang saya tempuh. Dari semula, saya sudah punya keinginan yang kuat untuk menjadi komikus dan kedua orang tua saya pun mendukungnya. Saya bertekad, suatu hari nanti pasti akan menjadi komikus profesional! Ini juga berlaku untuk karier pekerjaan yang lainnya. Suka saja tidak cukup, kalau kau sungguh menginginkan sesuatu, kau harus bekerja keras untuk meraihnya.

 

Menurut anda, apa yang paling penting dalam membuat komik?

Pertama-tama, harus ada cerita yang bagus untuk di gambar. Karena jago menggambar saja tidak cukup untuk menjadi komikus profesional.

 

Apakah ada komikus lain yang menjadi idola anda?

Ya, Fumizumi Kyoko-sensei dan Murakami Motoka-sensei. Koleksi komik pendek Fumizuki-sensei mengajariku cara membuat komik pendek. Sedangkan karya Muramaki-sensei yang berjudul Akai Pegasus, mengajariku cara membuat komik serial.

 

Ada pesan untuk mereka yang ingin menjadi komikus?

Menjadi seorang komikus profesional itu awalnya memang terasa seru dan menyenangkan, karena komikus juga bisa menghibur pembaca. Namun jangan sampai kalian merasa menjadi komikus itu menjadi beban hidup karena terpaksa. Kalau sudah menjadi komikus profesional, ada masa-masa tertentu, di mana membuat komik terasa sangat berat. Pada saat merasa seperti itu, jangan menyerah dan ingatlah para pembaca yang sedang menunggu komik kalian. [MS] [Photo: Dokumentasi ComicFest ID / Ilustrasi: Gaku Miyao]

 

Baca artikelnya lebih lanjut di re:ON Comics Volume 28

Aoba Bicycle ShopBaca di MangaMonBaca di Gramedia Digital

Back to Top