Matto Haq
Posted on 31 Jan 2019

share

Fb

tw

g+

Hai Reonites, pada kesempatan kali ini, re:ON menghadirkan wawancara khusus dengan salah satu komikus re:ON, Matto Haq. Matto merupakan komikus Onthelku, 1SR6 (komik re:ON online), dan Night Shift di dalam komik Shivers vol 2. Bagi yang penasaran ingin tahu tentang Kak Matto, yuk, langsung kita simak aja liputannya!

 

Halo Kak Matto, apa kabar? Sekarang sedang sibuk ngerjain apa, nih?

Halo, kabar baik nih. Kerjaan saya tidak jauh dari menulis dan menggambar. Ya menggambar komik, children picture book, dan sebagainya.

 

Kakak mulai ngomik dari kapan sih?

Hmm, kalau serius ngomik sudah sejak tahun 2009, tapi mulai coba bikin komik waktu SMP tahun pertama.

 

Apa yang membuat Kak Matto memutuskan ingin menjadi komikus?

Banyak faktor sih, salah satunya adalah untuk dapat menyampaikan ide saya, atau bercerita ke orang banyak tanpa perlu bertemu langsung. Ya, karena saya orangnya sangat pendiam dan pemalu.

 

Masih ingat, nggak? Komik pertama yang Kak Matto buat, judulnya apa?

Waduh… pertama kali komik bikin strip tentang sepak bola, yang saya tiru dari koran BOLA. Itu tahun pertama SMP. Ah, itu belum ada judulnya, jadi tidak dihitung. Yang ada judulnya itu, Heart of Sword, dibuat di tahun terakhir SMP. Petualangan fantasy menyelamatkan dunia ala-ala The Lord of The Ring abal-abal pernah saya buat ulang tahun 2009 dengan cerita yang sedikit lebih masuk akal.

 

Dulu pernah kebayang nggak, akan menjadi komikus profesional seperti sekarang ini?

Hmm, sebagian besar pernah kebayang, dan saya sangat bersyukur bayangan saya itu akhirnya dapat terwujud, dan sekarang komik Indonesia sudah dicintai masyarakat kita, bahkan gaungnya sampai ke dunia internasional.

 

Awal mulai ngomik apakah ada kendala yang dihadapi?

Kendalanya yaitu: ide cerita ada, kemauan ngomik ada, tapi bingung selanjutnya mau diapain komik saya itu? Kala itu iklim dunia komik jauh dari saat ini. Beruntung saya bisa bertemu senior-senior yang sudah duluan menerbitkan komik seperti Dony Kurniawan komikus Alakazam, yang bisa mengarahkan saya. Dan juga ada teman seperjuangan yang saling mendukung dan menyemangati kala itu.

 

Bisa diceritakan, awal mula Kakak bergabung dalam re:ON comics?

Wah, ceritanya panjang… Intinya saya bersyukur salah satu komik saya bisa dilirik tim editorial re:ON Comics sehingga saya bisa bergabung dan komik saya diterbitkan di re:ON.

 

Bagaimana pendapat kakak mengenai re:ON comics?

Saya sangat senang dan bersyukur dengan keberadaan re:ON Comics, karena telah menjadi salah satu wadah yang bisa mewujudkan keinginan dan mimpi teman-teman yang ingin menjadi komikus profesional.

 

Ide komik Onthelku itu dari mana sih?

Singkatnya dari hati, haha. Bisa dibaca di re:TELL edisi 29.

 

Onthelku

Komik Onthelku karya Matto

 

Katanya komik 1SR6 yang dimuat online di website re:ON, terinspirasi dari kisah nyata, ya? Bisa diceritakan?

Setting sekolahnya benar-benar ada. Saya sendiri bersekolah di situ. Sekolah yang unik, anak-anak yang agak nyentrik, guru yang menyenangkan, karena tidak terlalu protokoler, sehingga ini merupakan pengalaman yang tidak bisa saya lupakan dan kemudian menjadi inspirasi untuk kisah komik 1SR6.

 

Mengapa di komik-komik Kak Matto, sering banget memasukkan gambar lokasi asli, seperti Tugu Jogja, jembatan Mal Neo Soho, Jakarta?

Karena komik harus mampu menyampaikan informasi setting tempat tanpa lewat narasi tulisan. Sebisa mungkin saya menceritakannya dengan gambar. Tugu Jogja untuk mempertegas bahwa Rani dan Bayu tinggal di Jogja, begitu juga dengan jembatan Mall Neo Soho, untuk menunjukkan setting kota Jakarta.

 

Kak Matto, kan sekarang tinggal di Kyoto, Jepang, nah bagaimana cara membagi waktu antara mengurus keluarga dan ngomik?

Gampangnya sih dengan cara mengatur jam kerja dan hari libur sesuai dengan kalender Jepang. Jadi misal saat Golden Week, ya itu waktu buat jalan-jalan dengan keluarga. Kecuali ada kerjaan mendesak.

 

Enak mana tinggal di Jogja dibandingkan tinggal di Kyoto?

Kyoto dan Jogja punya kemiripan, budaya tradisionalnya sama-sama kental. Kyoto tidak seruwet dan secepat Tokyo, sama halnya dengan Jogja yang tak seruwet dan secepat Jakarta. Ah, tapi buat fasilitas publik, saya sangat suka Kyoto. Dan menurut saya Kyoto merupakan surga bagi orang yang suka bersepeda. Walau begitu Jogja tetap menjadi salah satu tempatku untuk pulang.

 

Apa yang paling bikin kangen sama Indonesia?

Salah satu yang bikin kangen itu, bertemu langsung dengan teman-teman komikus dan pembaca di event-event kreatif. Wah, jadi kangen Indonesia, nih.

 

Pernah nggak, mengalami idea block? Terus mengatasinya bagaimana?

Ketika saya kekurangan referensi saya bakal ‘idea block’. Solusinya berhenti berpikir, cari masukan dari hal lain, seperti buku, internet, diskusi dengan orang lain, atau jalan-jalan.

 

Kan, Kak Matto pernah bekerjasama dengan Ockto Baringbing dan Andik Prayogo. Nah, lebih enak buat komik cerita karya sendiri atau kolab bareng penulis?

Tidak bisa bilang mana yang lebih enak. Tapi keuntungan ketika berkolaborasi, apalagi dengan penulis yang handal adalah kamu bisa belajar banyak darinya.

 

Siapakah komikus idola yang menjadi panutan Kak Matto? Dan apa komik favorit kakak?

Komikus idola dengan komik mereka yang menjadi favorit saya adalah Adachi Mitsuru dengan komiknya Cross Game. Lalu Urasawa Naoki dengan karyanya Monster dan 20th Century Boys. Tapi mereka tidak menjadi panutan saya, karena saya tidak bisa mengikuti cerita sukses mereka. Yang saya bisa lihat adalah mereka yang ada di Indonesia, yaitu, Faza Meonk dan Sweta Kartika.

 

Night Shift dari Antologi Komik Misteri Shivers 2

Komik Night Shift, Shivers vol 2

 

Kalau menurut Kakak, perkembangan komik Indonesia sekarang ini bagaimana?

Menyenangkan sekaligus menantang.

 

Ada yang bilang komik Indonesia sekarang terlalu berkiblat ke manga Jepang, menurut Kakak bagaimana?

Menurut saya itu tidak masalah. Lagipula tidak semua kok, ada yang referensinya ke Eropa, ada yang ke Mandarin, ada yang ke Korea, ada juga yang Amerika. Yang jadi masalah kalau tidak ada yang baca komik-komik itu. Pertanyaannya, komik berkiblat ke mana yang lebih banyak penggemarnya, dan yang lebih laku di pasaran?

 

Apa harapan Kakak untuk komik Indonesia?

Semakin banyak konten-konten komik yang diadaptasi ke media lain seperti novel, game, serial TV, movie, dan sebagainya. Begitu juga sebaliknya.

 

Nah, menurut Kakak, apa saja yang dibutuhkan untuk menjadi seorang komikus?

Mau terus belajar, pantang menyerah, disiplin, stamina tinggi, semangat tinggi, dan sikap yang baik.

 

Ada pesan buat para Reonites yang ingin menjadi komikus?

Terus belajar, pantang menyerah, disiplin, jaga kesehatan, jaga semangat, dan jangan lupa bersikap yang baik. [AP] [Photo: Andhika Hartawan]

Baca artikelnya lebih lanjut di re:ON Comics Volume 29

1SR6
Onthelku
Beli Shivers vol. 2Beli di TokopediaBeli di Shopee

 

Back to Top